0
23 Apr
Dikirim pada 23 April 2013 di Materi Kuliyah

ISLAM DI IRAN

  1. RUMUSAN MASALAH
  1. Bagaimana latar belakang negara Iran?
  2. Bagaimana sejarah masuknya Islam di Iran?
  3. Bagaimana keadaan politik, budaya dan ekonomi di Iran?
  4. Apa saja paham keagamaan yang berkembang di Iran?

 

  1. PEMBAHASAN
  1. Latar Belakang Negara Iran

Iran (Republik Islam Iran) beribukota di Teheran. Negara pegunungan yang terletak di daerah Timur Tengah di belahan Utara bumi, antara 25˚ dan 40˚ garis lintang serta 44˚ dan 63˚ garis bujur. Disebelah utara berbatasan dengan Republik Armenia, Laut Kaspia, dan Republik Turkimenistan, disebelah Barat Daya dengan Irak, disebelah Timur Laut dengan Afganistan dan Pakistan, disebelah Barat Laut dengan Turki dan disebelah Selatan dengan Oman dan Teluk Persia. Luas wilayah Iran 1.638.057 km2, terbagi atas 24 provinsi, 195 kotapraja, dan 500 distrik. Provinsi terbesar ialah Khurasan dengan luas 315.687 km2, sedangkan profinsi terkecil adalah Gilan yang luasnya 14.820 km2.

Dahulu Iran lebih dikenal dengan sebutan negara Persia. Sejak tahun 1935, pada masa kekuasaan Raja Reza Khan (pendiri Dinasti Pahlevi dan ayah syah Muhammad Reza Pahlevi yang ditumbangkan oleh Ayatullah pada tahun 1979). Sebutan Persia diganti dengan Iran (Persia = orang-orang Aria atau keturunan bangsa Aria). Suatu nama yang pernah dipakai oleh nenek moyang bangsa Iran bagi dataran tinggi Iran yang dikuasai mereka pada sekitar tahun 1700 SM. Disebutkan pula bahwa pada masa kekuasaan Darius (salah seorang Maha Raja Iran tempo dulu), kata Iran juga pernah dipakai bagi negeri kekuasaannya.

Diperkirakan bahwa sebelum tahun 5000 SM sudah terdapat bangsa yang menetap di Iran, namun tidak diketahui secara pasti dari mana mereka itu berasal. Akan tetapi, sekitar tahun 2000 SM bangsa Aria yang juga merupakan ras Indo-Eropa itu telah mulai menetap di Iran. Mereka berasal dari suku Fras. Kemudian pada tahun 1000 SM datang pula suku Media yang juga berasal dari bangsa Aria dan menetap di wilayah Utara Iran.[1]

 

  1. Sejarah Masuknya Islam di Iran

Pada tahun 637 melalui perang Qadisiyyah, Imperium Persia jatuh ke tangan kaum muslimin yang waktu itu dipimpin oleh Khalifah Umar bin Khatab (634-644). Kemudian pada tahun 641, setelah melalui peperangan Nahavand, seluruh Imperium Persia yang waktu itu dipimpin oleh Yazdajird jatuh ke tangan kaum muslimin. Sejak itu Persia yang menganut agama Zoroaster beralih ke agama Islam. Akhirnya agama Islam pun bisa berkembang disana.

Sampai tahun 820 seluruh wilayah Persia praktis berada dibawah kekuasaan penuh khalifah di Baghdad. Tetapi sejak tahun 820, muncullah dinasti-dinasti kecil maupun besar di berbagai wilayah Persia. Dinasti-dinasti itu antara lain: Dinasti Samanid (892-999), Gaznawi (999-1037), dan Seljuk (1037-1157). Pada tahun 1501 muncullah kerajaan Safawi  yang menganut Islam Syi’ah dua belas Imam sebagai agama resmi negara.[2]  Diantara kota penting pada masa kerajaan Safawi adalah Isfahan. Kota ini merupakan gabungan dari dua kota sebelumnya, yaitu Jayy, (dulunya merupakan Ibu kota provinsi Persia pada waktu itu), dan kota Yahudiyyah.[3]

Sejak tahun 11 Februari 1979, melalui revolusi Islam yang dipimpin oleh ulama’ terkemuka Iran, almarhum Ayatullah Khomeini. Sistem kerajaan di Iran yang telah ribuan tahun berkuasa kemudian dihapus dan diganti dengan Republik Islam Iran sampai sekarang.

  1. Keadaan Politik, Budaya dan Ekonomi Iran

Sejak tahun 1906, Iran telah menjadi negeri Monarchi Konstitusional. Dewan Legislatif (pembuat undang-undang) dicetuskan dalam Majelis Dewan Konsultatif Nasional, terdiri dari 200 anggota yang dipilih 5 tahun sekali, termasuk nanti sebagai senat atau Majelis Tinggi. Senat terdiri dari 60 anggota, 30 atas usul Shah dan 30 lainnya hasil pemilihan. Lembaga Eksekutif adalah menteri kabinet, para menteri bertanggung jawab pada Dewan Legislatif dan Shah biasanya menunjuk Perdana Menterinya yang nanti memimpin dan menyeleksi para Menteri.

Politik Iran berkisah pada tokoh-tokoh partai atau program-programnya. Hanya ada satu partai polotik yang berbau Barat, yakni Partai Tudeh, yang kemudian sejak tahun 1953 dilarang hidup. Untuk tujuan-tujuan administratif Iran membagi provinsinya kedalam 21 provinsi (ustans) yang dipimpin oleh Gubernur Jendral (Ustandar). Ustan dibagi lagi dalam sub provinsi (Shahristans) selanjutnya dibagi lagi kedalam distrik-distrik. Kebanyakan kota memiliki dewan kota (wali kota) yang memungut retribusi pajak. Kantor-kantor departemen daerah seperti, kesehatan, pendidikan dan kepolisian bertanggung jawab kepada menterinya di Teheran dan memiliki kekuasaan atas keputusannya.

Pemerintahan Iran sekarang menjadi negara modern dengan sebutan Republik Islam Iran. Disamping ada pemerintah dan parlemen yang menjalankan dan mengawasi jalannya sistem pemerintahan ada juga Faqih atau ulama’ karismatik yang ikut mengontrol jalannya pemerintahan dan sosial-keagamaan penduduk kawasan ini. Lembaga ini disebut wilayah a-lFaqih (pimpinan tertinggi bidang agama dan politik) yang sejak tahun 1979 dipimpin oleh Imam Khamaini, tokoh revolusi Iran, setelah wafat telah digantikan oleh para ulama’-ulama’ karismatik lainnya. Sekarang dan untuk menghindari konflik, kedudukan pemimpinnya sejak tahun 4 Juni 1989 digantikan oleh anak Imam Khamaini, yakni Ali Khamaini.

Dalam sistem pemerintahan wilayah Al-Faqih ini, Iran juga mengenal istilah Eksekutif, Legislatif dan Yudikatif. Kepala pemerintahan dipegang oleh seorang presiden. Pemilu dilakukan 4 tahun sekali, untuk memilih 290 anggota majelis legislatif. [4]

Kebudayaan Iran telah lama memengaruhi kebudayaan-kebudayaan lain di Timur Tengah dan Asia Tengah. Malahan, Bahasa Persia merupakan bahasa intelektual selama milenium kedua Masehi. Kebanyakan hasil tulisan Persia diterjemahkan ke dalam Bahasa Arab semasa kekholifahan Islam. Pada zaman awal Islam di Persia, kebanyakan karya Persia ditulis dalam Bahasa Arab. Tetapi, ketika zaman pemerintahan Umayyah, orang-orang Persia ditindas oleh bangsa Arab. Ini menyebabkan banyak tokoh intelektual Persia mulai menggunakan bahasa Persia dalam tulisan mereka[5].

Diantara tempat-tempat penting di Iran adalah Mashed dan Qura. Pendidikan umum telah diwajibkan oleh undang-undang tahun 1943 sehingga sekolah-sekolah negeri gratis. Sebelum perang dunia II, bahasa Prancis merupakan bahasa yang diajarkan disekolah, tetapi kemudian digantikan oleh bahasa Inggris. Terdapat sejumlah lembaga-lembaga pelatihan guru dan sekolah-sekolah tekhnik dan lembaga khusus ahli dari berbagai jenis bidang disiplin termasuk sekolah-sekolah musik, teater dan keperawatan. Universitas Teheran didirikan pada tahun 1935. Fakultas-fakultasnya: seni/sastra dan pendidikan, hukum, theologi, kedokteran, farmasi, pertanian, sains, teknologi dan fakultas kedokteran hewan.nuniversitas Tabriz berdiri tahun 1947, juga ditempat-tempat lain di Shiraz, Isfahan, Ahwaz, dan Mashed.

Museum-museum berada dibawah pengawasan kementrian pendidikan. Terdapat tiga museum di Teheran: Museum Gulestan Palace (berdiri tahun 1894), juga di Shiraz, Mashed, dan Qum. Perpustakaan penting di Teheran Gulistan Palace terdapat berbagai manuskrif hebat, perpustakaan parlemen, berbagai perpustakaan fakultas di Universitas Teheran serta Perpustakaan Nasional. Sekalipun demikian, komposisi penduduk 50% masih berada pada garis kemiskinan, angka pengangguran 30%. Angka buta huruf terus berkurang dari 50% pada tahun 1980-an sekarang tinggal 28%.[6]

Berdasarkan taksiran pasti 30% - 35% wilayah negeri ini adalah padang pasir dan gurun, kira-kira 10% - 15% hutan, 15% tanah pengembalaan dan kurang dari 20%nya adalah lahan potensial yang dapat diolah. Lahan ini menyongkong hasil tanaman biji-bijian: gandum, gerst (gandum pembuat bir), dan padi-padian sebagai beras, terutama disekitar Kaspia. Disini juga terdapat lahan luas penghasil sayuran dan buah-buahan (pir, apel, persik, prem, delima, aprikot, kurma, melon dan jeruk). Hasil lainnya, kapas tembakau, minyak mentah, dan gula bit. Sehingga dalam banyak kasus irigasi sangat dibutuhkan di wilayah ini.

Gandum merupakan hasil biji-bijian yang terbesar. Iran tengah dan selatan bergantung pada gandum dan gers Azerbaijan. Beras dalam jumlah banyak sebagai bahan bangan ketiga dapat diekspor ke Rusia. Iran mengandalkan minyak dan gas bumi, batu bara, tembaga, bijih besi, timah dan sulfur. Minyak adalah aset mineral yang sangat bernilai sehingga Iran menjadi peringkat ke-4 di dunia. Awal penemuannya tahun 1908 dan dikembangkan sampai nasionalisasi tahun 1951.

Mineral-mineral lainnya ditemukan juga tetapi dalam jumlah yang sedikit, terutama didaerah terpencil yang sulit dilakukan eksplorasi. Kurang 2% populasi rakyat Iran bekerja di industri, setengahnya dipekerjakan dalam produksi barang-barang manufaktur di rumah-rumah seperti pakaian dan permadani. Produksi penting adalah tekstil (kapas, kantun, wol, sutra, rami/roni).[7]

Bangsa Iran telah mengenal peradaban jauh sebelum bangsa Arab. Kemudian mampu beradaptasi dengan agama Islam yang membuka jalan bagi pemeluk-pemeluknya untuk menciptakan suatu peradaban yang tinggi. Dalam ilmu pengetahuan misalnya, muncul tokoh-tokoh seperti: al-Bairuni, Muhammad Musa al-Khawarizmi, Umar Khayyam, Abu Bakar al-Juwaini dan lain sebagainnya.[8]

 

 

  1. Paham Keagamaan yang Berkembang di Iran

Di dunia Islam, Persia menempati menempati kedudukan khas, karena berbeda dengan kebanyakan negera di dunia Islam. Mayoritas penduduk Persia (kini sekitar 90%) menganut Islam syiah. Namun, ada dua sifat khusus yang lain, yang baru berkembang belakangan, yang membedakan Islam syiah Persia-dan hanya Persia-dari Islam sunni.

Awal perkembangan kedua golongan tersebut terletak pada abad ke-16 M. Pada abad itu Islam syiah diperkukuh oleh dinasti Syafawi dan menjadi agama yang resmi di Persia. Kebijakan itu dianut oleh dinasti Syafawi untuk memperkuat kekuasaannya dengan memberikan suatu dasar dan pengabsahan keagamaan. Baru kemudian, pada abad ke-18 dan ke-19 dan dibawah pemerintahan dinasti-dinasti baru terutama Dinasti Qajar (1794-1925), golongan ulama menjadi suatu Korps Hierarkis dan Otonom terhadap negara yang seringkali menjadi dasar perlawanan terhadap penguasa negara.[9]

Sejak tahun 640 M seluruh wilayah Persia telah dikuasai pemerintahan Islam, Amawiyah (661-750) dan Abasiyah (750-1258). Bermacam-macam dinasti lokal banyak berdiri disekelilingnya, Tahirids (820-872) di Khurasan, Samaninds (900-994) di Transoxiana-Khurasan, Saffarids (867-909) di Kirman-Khurasan. Mayoritas penduduknya bermadzab Syi’ah, kemunculannya mungkin akibat kekecewaan politik orang-orang Persia terhadap bangsa Arab, juga adanya pertemuan kultural Arab-Persia yang “terlembagakan” melalui pernikahan antara Hussain anak Ali bin Abi Thalib (cucu Rasulullah SAW) dengan putri kaisar Persia.

Banyak kekuasaan berikutnya yang ikut andil dalam melahirkan sejumlah karakter sejarah negara Persia-Iran ini, terutama dalam pembentukan sebagai negara modern, yakni Safawiyyah (1507-1722) sampai dinasti Qajar (1779-1925). Periode Safawi merupakan masa penerapan ortodoksi agama, terutama sufisme dengan corak ahiisme-nya, sebagai upaya politik untuk membedakan wilayah kekuasaannya dengan wilayah-wilayah Sunni disekitarnya, Turki Usmani dan Mughal India. Tahun 1722 ia ditaklukkan oleh penguasa Afgans Mahmud, kemudian oleh Nadir Shah 1736-1747. Setelah itu diatur oleh keluarga Zands kemudian oleh dinasti Qajars.[10]

Madzhab resmi Islam di Iran adalah Syi’ah Itsna ‘Asariyah (madzab Ja’fary) yang telah diterapkan sejak masa Shah Isma’il 1 dinasti Safawy abad ke-16. Isma’il berkuasa selama 23 tahun, yakni antara tahun 1501-1524 M. Hanya selang waktu 10 tahun wilayah kekuasaan Isma’il sudah meliputi Persia dan bagian Timur bulan sabit subur (Fertile Crescent)[11]

Di Iran berbeda dengan dunia masyarakat sunni lainnya, mereka memiliki para anggota Imam yang terdiri dari para Mujtahid dan Mullah. Mereka adalah para penafsir Al-Qur’an yang berwenang dalam menerapkannya pada kehidupan sehari-hari di masyarakat Iran. Dalam tradisi intelektual, mereka melebihi dunia Islam Sunni terutama saat-saat terjadi kevakeman ijtihad pada periode pertengahan. Mereka terus giat mengembangkan warisan intelektual muslim sunni, terutama dalam bidang filsafat Islam, khususnya theosofi isyiraqiyah dan Ibn ‘Araby, hingga lahirlah tokoh-tokoh seperti Mulla Shadra, Shadr al-Din al-Qunnawy dan sebagainya. Pada periode modern lahir pula tokoh-tokoh intelektual seperti, Thabathabai, Mutahhari, Ali Syariati, Al-Baqilany dan sebagainya.[12]

Kebanyakan penduduk Iran adalah muslim, di mana 90% Syiah dan 8% Sunnah Wal Jamaah. 2% lagi adalah penganut agama Baha'i, Mandea, Hindu, Zoroastrianisme, Yahudi dan Kristen. Zoroastrianisme, Yahudi dan Kristian diakui oleh pemerintah Iran dan turut mempunyai perwakilan di parlemen. Agama Baha'i tidak diakui.

 

 



[1] Dewan Redaksi Ensiklopedia Islam, Ensiklopedi Islam (Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hove, 1997) hlm. 241-242

[2]Dewan Redaksi Ensiklopedia Islam, Ensiklopedi Islam,...., hlm. 242

[3] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. 2003), hlm. 284

[4] Azyumardi Azra, Studi Kawasan Dunia Islam, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada. 2009), hlm. 190-192

[5]

[6] Azyumardi Azra, Studi Kawasan Dunia Islam,... hlm. 194-195

[7] Azyumardi Azra, Studi Kawasan Dunia Islam,... hlm, 197

[8] Dewan Redaksi Ensiklopedia Islam, Ensiklopedi Islam,...., hlm. 243

[9]  Dewan Redaksi Ensiklopedia Islam, Ensiklopedi Tematis Dunia Islam Dinamika Masa Kini, (Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hove, t.th),  hlm. 28

[10] Azyumardi Azra, Studi Kawasan Dunia Islam,... hlm. 188-189

[11] Fatah Syukur, Sejarah Peradaban Islam (Semarang: PT Pustaka Rizki Putra. 2009), hlm. 140

[12] Azyumardi Azra, Studi Kawasan Dunia Islam,..., hlm. 193-194

 



Dikirim pada 23 April 2013 di Materi Kuliyah
comments powered by Disqus
Profile

Jihad dengan Thalabul `Ilmu More About me

Page
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 232.260 kali


connect with ABATASA