0


Power Point Thaharah (bersuci)

Dikirim pada 13 Juni 2013 di Materi Kuliyah


Mata Pelajaran : Fikih
Kelas/Semester : VII/1
Standar Kompetensi : 1. Melaksanakan ketentuan thaharah (bersuci)
Kompetensi Dasar :
1.1 Menjelaskan macam-macam najis dan tatacara taharahnya ( bersucinya )
1.2 Menjelaskan hadas kecil dan tatacara taharahnya
1.3 Menjelaskan hadas besar dan tatacara taharahnya
Indikator :
1.1.1 Menjelaskan pengertian Thaharah
1.1.2 Menejelaskan macam-maccam Thaharah
1.1.3 Menjelaskan pengertian najis
1.1.4 Menyebutkan macam-macam pembagian najis
1.1.5 Menjelaskan tatacara bersuci dari najis
1.2.1 Menjelaskan pengertian hadas
1.2.2 Menjelaskan macam-macam hadas
1.2.3 Menyebutkan hal-hal yang termasuk hadas kecil
1.2.4 Menyebutkan syarat dan rukun tayamum
1.2.5 Menjelaskan tatacara tayamum
1.2.6 Menyebutkan syarat dan rukun wudhu
1.2.7 Menjelaskan tatacara berwudhu
1.3.1 Menyebutkan hal-hal yang termasuk hadas besar
1.3.2 Menyebutkan rukun mandi wajib
1.3.3 Menyebutkan sebab-sebab mandi wajib
1.3.4 Menyebutkam sunnah-sunnah mandi wajib
1.3.5 Menyebutkan larangan bagi orang yang sedang junub
1.3.6 Menyebutkan larangan bagi orang yang sedang haidh
1.3.7 Menjelaskan tatacara mandi besar
I. Tujuan Pembelajaran :
Setelah mempelajari bab ini, diharapkan siswa mampu:
· Menjelaskan macam-macam najis dan tatacara taharahnya (bersucinya) dengan benar
· Menjelaskan hadas kecil dan tatacara taharahnya dengan baik dan benar
· Menjelaskan hadas besar dan tatacara taharahnya dengan baik dan benar

II. Materi Pokok: Thaharah (Bersuci)
Materi Ajar:
THAHARAH (BERSUCI)
A. Najis dan Tatacara Thaharahnya
1. Pengertian Thaharah
Taharah menurut bahasa, artinya bersih atau bersuci, sedangkan menurut istilah, taharah adalah menyucikan badan, pakaian, dan tempat dari hadas dan najis dengan cara yang telah ditetapkan oleh syariat Islam. Islam sangat menganjurkan kepada umatnya agar selalu dalam keadaan bersih dan suci. Orang-orang yang sanggup menjaga kesuciannya sangat dicintai Allah.
2. Macam-MacamTaharah
Taharah dibagi menjadi dua, yaitu:
a. Taharah dari najis, yang berlaku untuk badan, pakaian, dan tempat. Cara menyucikannya dengan air yang suci dan menyucikan, yang biasa disebut air mutlak.
b. Taharah dari hadas, yang berlaku untuk badan, seperti mandi, wudu, dan tayamum.
3. Pengertian Najis
Menurut bahasa, najis artinya kotor. Menurut istilah, najis adalah segala sesuatu yang dianggap kotor menurut syara’ (Hukum Islam). Suatu benda atau barang yang terkena najis disebut mutanajjis. Benda mutanajjis dapat disucikan kembali, misalnya pakaian yang kena air kencing dapat dibersihkan dengan cara menyucinya. Berbeda dengan benda najis, seperti bangkai, kotoran manusia dan hewan tidak dapat disucikan lagi, sebab ia tetap najis.
Kotoran adalah segala sesuatu yang kotor atau tidak bersih. Tidak semua yang kotor selalu dikatakan najis, misalnya daki di badan, ketombe di kepala, noda air kopi atau sirop, dan sebagainya.
Perlu dibedakan antara najis dan hadats. Najis kadang kita temukan pada badan, pakaian dan tempat. Sedangkan hadats terkhusus kita temukan pada badan. Najis bentuknya konkrit, sedangkan hadats itu abstrak dan menunjukkan keadaan seseorang. Ketika seseorang selesai berhubungan badan dengan istri (jima’), ia dalam keadaan hadats besar. Ketika ia kentut, ia dalam keadaan hadats kecil. Sedangkan apabila pakaiannya terkena air kencing, maka ia berarti terkena najis. Hadats kecil dihilangkan dengan berwudhu atau tayamum dan hadats besar dengan mandi. Sedangkan najis, asalkan najis tersebut hilang, maka sudah membuat benda tersebut suci.
4. Pembagian Najis dan Macam-Macam Najis berdasarkan Pembagiannya
Dalam ilmu fikih, najis dibagi menjadi empat, yaitu:
a. Najis berat atau najis mugallazhah, yaitu najis yang harus dicuci sampai tujuh kali dengan air mutlak dan salah satunya menggunakan debu yang suci atau air yang dicampur dengan tanah. Contohnya air liur anjing.
b. Najis sedang atau najis mutawassithah, yaitu najis yang dicuci dengan cara menggunakan air mutlak sampai hilang bau dan warnanya.
Najis mutawassithah dibagi menjadi:
Najis ‘ainiyah, yaitu najis yang masih terlihat zatnya, warnanya, rasanya, maupun baunya. Cara menyucikannya dengan menghilangkan zat, warna, rasa dan baunya.
Najis hukmiyah, yaitu najis yang kita yakini adanya tetapi tidak nyata zatnya, baunya, rasanya, dan warnanya, seperti air kencing yang sudah mengering.
c. Najis ringan atau najis mukhaffafah, yaitu najis yang dapat disucikan dengan memercikkan atau menyiram air di tempat yang terkena najis. Contohnya: air kencing bayi yang belum makan apa-apa kecuali air susu ibu.
Najis yang dimaafkan atau najis ma‘fu, yaitu najis yang dapat disucikan cukup dengan air, jika najisnya kelihatan. Apabila tidak kelihatan tidak dicuci juga tidak apa-apa, karena termasuk najis yang telah dimaafkan. Misalnya najis bangkai hewan yang tidak mengalir darahnya, darah atau nanah yang sedikit, debu dan air di lorong-lorong yang memercik sedikit yang sukar menghindarkannya.
5. Tatacara menyucikan Najis
Ada bebrapa cara yang perlu diperhatikan dalam hal bersuci dari najis, yaitu sebagai berikut:
a. Barang yang kena najis mughalazhah seperti jilatan anjing atau babi, wajib dibasuh 7 kali dan salah satu diantaranya dengan air yang bercampur tanah
b. Barang yang terkena najis mukhaffafah, cukup diperciki air pada tempat najis tersebut.
c. Barang yang terkena najis mutawassithah dapat disucikan dengan cara dibasuh sekali, asal sifat-sifat najisnya (warna, baud an rasa) itu hilang. Adapun dengan cara tiga kali cucian atau siraman lebih baik.
Jika najis hukmiah cara menghilangkannya cukup dengan mengalirkan air saja pada najis tadi.

B. Hadas Kecil dan Tatacara Thaharahnya
1. Pengertian hadas
Secara bahasa, hadas berarti kejadian atau peristiwa. Sedangkan menurut istilah sayr‘i hadas berarti kejadian-kejadian tertentu pada diri seseorang yang menghalangi sahnya ibadah yang dilakukannya. Orang yang berhadas dan mengerjakan salat, maka salatnya tidak sah.
Rasulullah saw. bersabda:
Artinya: “Allah tidak akan menerima salat seseorang dari kamu jika berhadas, sehingga berwudu.” (HR. al Bukhari dan Muslim).

2. Macam-macam Hadas
Hadas dibagi menjadi dua yaitu hadas kecil dan hadas besar.
a. Hadas kecil: hadas yang cara menghilangkannya dengan bewudu atau tayamum
b. Hadas besar: hadas yang cara menghilangkannya dengan mandi wajib atau janabah.
3. Hal-hal yang termasuk hadas kecil
Hal-hal yang termasuk hadas kecil antara lain:
a) sesuatu yang keluar dari qubul atau dubur, meskipun hanya angin,
b) bersentuhan langsung antara kulit laki-laki dengan perempuan yang sudah balig dan bukan muhrimnya,
c) menyentuh kemaluan dengan telapak tangan,
d) tidur dalam keadaan tidak tetap, dan
e) hilang akalnya, seperti mabuk, gila, atau pingsan walaupun hanya sesaat.
4. TAYAMUM
Ø Syarat dan Rukun Tayamum
a. Dibolehkannya tayamum dengan syarat:
1. Tidak ada air dan telah berusaha mencarinya, tetapi tidak bertemu.
2. Berhalangan menggunakan air, misalnya karena sakit yang apabila menggunakan air akan kambuh sakitnya.
3. Telah masuk waktu shalat.
4. Dengan debu yang suci.
b. Rukun atau Fardhu Tayamum
1. Niat
2. Mengusap muka dengan debu tanah
3. Mengusap dua belah tangan hingga siku-siku dengan debu tanah
4. Memindahkan debu kepada anggota yang diusap
5. Tertib
Ø Tatacara Tayamum
a. Meletakkan kedua tangan diatas debu yang bersih dan suci.
b. Mengusap muka dengan debu tanah, dengan dua kali usapan sambil mengucapkan niat. Niat (untuk diperbolehkan mengerjakan shalat)
Lafadz niat:
نَوَيْتُ التَّيَمُّمَ لِاِسْتِبَاحَةِ الصَّلَاةِ فَرْضًا لِلَّهِ تَعَا لَي
Nawaitut-tayammuma li istibaahatish-shalaati fardhal lillahi ta’ala
Artinya: aku niat bertayamum untuk dapat mengerjakan shalat fardhu karena Allah
c. Meletakkan dua belah tangan diatas debu yang berbeda untuk diusapkan ke dua belah tangan sampai siku-siku.
5. WUDHU
Ø Syarat dan Rukun Wudhu
a. Syarat wudhu:
1. Islam
2. Tamyiz, yakni dapat membedakan baik buruknya sesuatu
3. Tidak berhadas besar
4. Dengan air suci dan mensucikan
5. Tidak ada sesuatu yang menghalangi air sampai ke anggota wudhu, misalnya getah, cat, minyak dan sebagainya.
6. Mengetahui mana yang wajib (fardhu) dan yang sunnah
b. Rukun (Fardhu) wudhu:
1. Niat: ketika membasuh muka
2. Membasuh seluruh muka (mulai dari tumbuhnya rambut kepala hingga bawah dagu, dan telinga kanan hingga telinga kiri)
3. Membasuh kedua tangan hingga siku
4. Membasuh sebagian rambut kepala
5. Membasuh kedua belah kaki sampai mata kaki
6. Tertib (berturut-turut), artinya mendahulukan mana yang harus dahulu, dan mengakhirkan mana yang harus di akhirkan.
Ø Tatacara wudhu
Sebelum berwudhu kita harus membersihkan dahulu najis-najis yang ada di badan, kalau memang ada najis.
Cara mengerjakan wudhu:
a. Membaca “ Bismillahir-rahmanir-rakhim”, sampai mencuci kedua belah tangan sampai pergelangan tangan dengan bersih.
b. Selesai membersihkan tangan terus berkumur-kumur tiga kali, sambil membersihkan gigi.
c. Selesai berkumur terus menyela-nyela lubang hidung tida kali.
d. Membasuh seluruh muka (mulai dari tumbuhnya rambut kepala hingga bawah dagu, dan telinga kanan hingga telinga kiri). Sambil niat wudhu sebagai berikut:
نَوَيْتُ الوُضُوْءَلِرَفْعِ الحَدَثِ الْاَصْغَرِ فَرْضًا لِلَّهِ تَعَا لَي
Nawaitul wudhuu’a li raf’il-hadatsil-ashghari fardhal lillahi ta’alaa
Artinya: aku berwudhu untuk menghilangkan hadas kecil. Fardhu karena Allah.
e. Membasuh kedua belah tangan hingga siku-siku sampai tiga kali
f. Mengusap sebagian rambut kepala sampai tiga kali
g. Mengusap kedua belah telinga hingga tiga kali
h. Membasuh kedua belah kaki sampai mata kaki hingga tiga kali.
i. Dalam mengerjakan rukun wudhu wajib dikerjakan dengan berturut-turut (tertib)

C. Hadas Besar dan Tatacara Thaharahnya
1. Hal-hal yang termasuk hadas besar antara lain:
• bertemunya alat kelamin laki-laki dan wanita, baik keluar mani maupun tidak,
• keluarnya darah haid, nifas, wiladah dan istihadah.
• keluar air mani, baik ada sebabnya maupun tidak seperti mimpi, dan
• orang yang mati.
2. MANDI BESAR
Ø Sebab-Sebab Mandi Wajib
a. Bertemunya dua khitan (bersetubuh)
b. Keluar mani disebabkan bersetubuh atau dengan lain-lain sebab.
c. Mati, dan matinya itu bukan mati syahid
d. Setelah selesai nifas (melahirkan: setelah selesai berhentinya keluar darah sesudah melahirkan)
e. Karena wiladah (setelah melahirkan)
f. Setelah selesai haidh.
Ø Rukun Mandi Wajib
a. Niat
b. Membasuh seluruh badan dengan air, yakni meratakan air ke semua rambut dan kulit
c. Menghilangkan najis
Ø Sunnah-Sunnah Mandi Wajib
a. Mendahulukan membasuh segala kotoran dan najis di seluruh badan.
b. Membaca basmalah pada permulaan mandi
c. Menghadap kiblat pada saat mandi dan mendahulukan bagian kanan daripada kiri
d. Membasuh badan sampai tiga kali
e. Membaca doa sebagaimana membaca doa sesudah wudhu
f. Mendahulukan mengambil air wudhu, yakni sebelum disunahkan berwudhu lebih dahulu.
g. Beriringan, artinya tidak lama waktu antara membasuh sebagian anggota yang satu dengan yang lain.
Ø Larangan Bagi Orang yang Sedang Junub
Bagi mereka yang sedang berjunub, yakni mereka masih berhadats besar tidak boleh melakukan hal-hal sebagai berikut:
a. Melaksanakan shalat
b. Melakukan thawaf di Baitullah
c. Memegang Kitab Suci Al-Qur’an
d. Membawa/mengangkat Kitab Al-Qur’an
e. Membaca Kitab Suci Al-Qur’an
f. Berdiam di masjid
Ø Larangan Bagi Orang yang Sedang Haidh
Mereka yang sedang haidh dilarang melakukan seperti tersebut di atas, dan ditambah larangan sebagai berikut:
a. Bersenang-senang dengan apa yang diantara pusar dan lutut.
b. Berpuasa, baik sunnah maupun wajib
c. Dijatuhi thalaq (cerai).
Ø Tatacara Mandi Wajib
Setelah mengetahui sebab, rukun, dan sunah mandi wajib maka pelaksanaannya sebagai berikut:
1. Membasuh kedua tangan dengan niat yang ikhlas karena Allah
2. Membersihkan kotoran yang ada pada badan
3. Berwudhu
4. Menyirami rambut dengan sambil menggosok atau menyilanginya dengan jari
5. Menyirami seluruh badan dengan mendahulukan anggota badan sebelah kanan dan menggosoknya dengan rata.
6. Apabila dianggap telah rata dan bersih, maka selesailah mandi kita.

III. Alat/Media/Sumber Belajar :
Ø Sumber Belajar: Buku Paket Fikih kelas VII, Buku Panduan Sholat
Ø Media Pembelajaran : Gambar Panduan Wudhu, Tayamum dan Mandi Besar, serta Video Panduan Wudhu
Ø Alat : Laptop, LCD Projektor, Gambar

Keterangan: Gambar dan Video terlampir

Dikirim pada 13 Juni 2013 di Materi Kuliyah



SOMBONG

I. PENDAHULUAN
Hati yang sakit adalah hati yang hidup namun mengandung penyakit,. Penyakit-penyakit hati yang dimaknai dengan sifat-sifat tercela yang ada pada diri manusia, apabila itu mendominasi kehidupan manusia, maka jadilah hatinya menjadi sakit. Penyakit ini berbahaya karena merupakan pengejawantah atas cinta manusia kepada dunia, yang diwujudkan dalam bentuk ingin mendapat pujian dan sanjungan dari manusia atas perbuatannya.[1]
Tanda hati yang sakit itu adalah, pertama, tidak merasa sulit melakukan pebuatan maksiat. Kedua enggan memberikan santapan rohani yang bermanfaat bagi hatinya dan cenderung kepada makanan rohani yang memudhatkan hatinya.[2]Adapun penyakit hati diantaranya adalah sombong, ujub, riya’, munafik dan sebagainya.
Sombong adalah kata yang cukup menyeramkan dalam pergaulan, terutama kita yang hendak menjaga kebersamaan. Keberadaannya akan mengantarkan seseorang dijauhi oleh orang lain, bahkan oleh Allah SWT. karena penyakit inilah yang membuat Allah murka dan mengusir iblis dari surga.[3] Berikut pemakalah akan membahas mengenai sikap sombong yang sangat membahayakan bagi setiap pribadi Muslim.

II. RUMUSAN MASALAH
A. Apa pengertian Sombong?
B. Apa bahaya yang diakibatkan oleh kesombongan?
C. Bagaimana menunjukkan sikap membenci kesombongan?

III. PEMBAHASAN
A. Pengertian Sombong
Menurut pengertian istilah, takabbur ialah menampakkan kakaguman diri dengan cara meremehkan orang lain dan merasa dirinya lebih besar dibandingkan dengan orang lain, serta tidak mau mendapat kritik dari orang lain.[4] Sombong adalah membanggakan diri sendiri, mengganggap dirinya yang lebih dari yang lain. Membuat dirinya terasa lebih berharga dan bermartabat sehingga dapat menjelekkan orang lain.[5]
Ujub adalah ta`ajub (kagum diri) terhadap kelebihan yang dimilikinya. Ianya juga bagian dari takabbur yang tersimpan di dalam hati seseorang. Misalnya muncul di dalam dirinya bahwa hanya dia sajalah yang memiliki kesempurnaan ilmu dan amal sedang orang lain tidak. Ta`ajub diri juga adalah sifat yang buruk seperti yang disampaikan Rasul.
Seseorang bisa terjebak timbulnya sifat takabbur karena merasa lebih kaya, lebih pintar, lebih bangsawan, lebih cantik, dan gagah. Kesimpulannya banyak pintu-pintu terbukanya kesombongan bagi manusia, apabila dia memiliki sikap mental yang meganggap enteng dan remeh orang lain atas kelebihan yang ada padanya.[6] Padahal Allah telah melarang kita dalam QS. Al Luqman ayat 18:
Ÿwur öÏiè|Áè? š‚‰s{ Ĩ$¨Z=Ï9 Ÿwur Ä·ôJs? ’Îû ÇÚö‘F{$# $·mttB ( ¨bÎ) !$# Ÿw =Ïtä† ¨@ä. 5A$tFøƒèC 9‘qã‚sù ÇÊÑÈ


Artinya: dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.[7]

Sombong disebut juga dengan takabbur, congak, pongoh, membusungkan dada dan membanggakan diri. Sombong ini termasuk penyakit batin. Kita lihat dalam masyarakat, ada kesombongan ilmia, karena hanya dia yang paling tahu, ada kesombongan kekuasaan, karena hanya dia yang paling kuasa, ada kesombongan kekayaan, karena hanya dia yang paling kaya. Paling parah lagi penyakit ini, apabila sudah berjangkit ke dalam hati, hanya dia yang paling taat, yang paling dermawan, dan yang paling berjasa membela rakyat yang menderita, mengentaskan kemiskinan.[8]

Bahaya yang diakibatkan oleh Kesombongan
Allah ta’ala menghalalkan rezeki-rezeki baik dari makanan-minuman-pakaian untuk dimanfaatkan tidak pada kedurhakaan dan penyelewengan, termasuk didalamnya adalah kesombongan dan berbangga, karena kesombongan menghapus nilai-nilai keutamaan, mendapatkan nilai-nilai kerendahan, menjauhkan dari sikap merendah (tawadhu’)-yang merupakan sumber akhlak bagi orang-orang yang bertakwa, menumbuhkan penyakit kedengkian, kemarahan, mencibir dan mempergunjing orang lain, menjauhkan dari sikap kejujuran, dari sikap menahan kejengkelan, dari sikap menerima nasihat, dari sikap yang memperhatikan kekurangan sendiri, dari sikap mencari ilmu, dan sikap tunduk kepada kebenaran.[9]
Penyakit sombong tidak hanya dibenci oleh Allah, tetapi juga dibenci oleh manusia yang jernih pikirannya dan bersih batinnya. Agar penyakit sombong itu tidak menular ke dalam hati, karena begitu benci Allah kepada orang-orang yang sombong itu, maka Allah memberikan balasan dan hukuman kepada mereka itu, sebagaimana firman Allah: (Q.S An-Nisa ayat 173)
Artinya: Adapun orang-orang yang beriman dan berbuat amal saleh, Maka Allah akan menyempurnakan pahala mereka dan menambah untuk mereka sebagian dari karunia-Nya. Adapun orang-orang yang enggan dan menyombongkan diri, Maka Allah akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih, dan mereka tidak akan memperoleh bagi diri mereka, pelindung dan penolong selain dari pada Allah.[10]

Masih ada lagi ayat-ayat yang menggambarkan tentang sanksi hukum yang akan diterima oleh orang-orang yang menyombongkan diri. Adakalanya azab itu langsung diterimanya di dunia (yang beragam bentuknya) dan adakalanya di akhirat kelak (yang sudah pasti terjadi).[11]
Sifat sombong sebaiknya harus selalu kita jauhi karena sifat sombong memberikan banyak bahaya untuk kita semua. Bahaya – bahaya dari sifat sombong antara lain adalah:
1. Orang yang di dalam hatinya ada kesombongan walaupun kecil, tidak akan masuk surga.
لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْر
“Tidak akan masuk al jannah (surga) barang siapa di dalam hatinya terdapat setitik kesombongan.”
2. Orang yang sombong tidak hanya dibenci oleh Allah, tetapi juga dibenci oleh manusia.
3. Orang yang kafir dan menyombongkan diri terhadap Allah, akan ditimpa siksaan yang pedih dan tidak ada baginya seorang penolong kecuali Allah SWT.[12]
4. Sombong adalah pintu bagi dosa – dosa lainnya. Sombong adalah dosa yang pertama kali dilakukan oleh mahluk ciptaan Allah yaitu Iblis ketika menolak peritah Allah SWT agar iblis bersujud kepada Nabi Adam AS. Akhirnya iblis pun dikeluarkan dari surga, dan dengan segala tipu dayanya mengajak manusia untuk berbuat dosa dan maksiat sehingga pada akhirnya muncul berbagai macam dosa lainnya.[13]

Menunjukkan Sikap Membenci Kesombongan
Sikap sombong lahir pada diri seseorang karena menganggap dirinya lebih dan merendahkan orang yang hidup dalam kekurangan. Rasulallah saw. bersabda yang bernama sombong adalah menolak kebenaran dan menganggap remeh orang lain. Banyak kebenaran yang ditolak hanya karena kebenaran itu datangnya dari orang miskin atau umurnya lebih muda darinya. Banyak kebaikan yang sia-sia karena yang memberikan teladan kebaikan adalah orang yang strata sosialnya lebih rendah darinya. Kesombongan itu juga yang membuat penilaian terhadap orang lain menjadi subjektif dan tidak proporsional.[14] Pada dasarnya seorang Muslim bisa menunjukkan sikap benci terhadap kesombongan dengan cara menghindari sikap sombong itu sendiri, Beberapa tips untuk menghindari sifat sombong adalah:
1. Selalu bersyukur dan berdzikir kepada Allah. Karena sikap syukur itulah yang membuat seseorang jauh dari sombong.
2. Rajin beribadah dan lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.
3. Hindari banyak bicara dan membanggakan diri sendiri. Titik awal dari penyakit sombong adalah berawal dari pembicaraan karena pembicaraan yang kita ucapkan sering kali hanya membicarakan mengenai kelebihan yang kita punya.
4. Mempelihara sikap rendah hati, bukan rendah diri. Selalu rendah hati adalah kunci untuk memerangi sifat sombong. Maksud dari rendah hati yaitu senang berlaku baik terhadap semua orang. Selalu menolong orang-orang yang membutuhkan bantuan kita. Sehingga kita tidak lakunya berlagak sombong.
5. Jangan merasa paling dermawan. Jangan sampai kita mengungkit-ungkit apa pun yang kita berikan kepada orang lain.
6. Tebarkan salam dengan sesama Muslim. Karena jika kita melakukannya berarti menunjukkan bahwa kita tidak sombong. Tidak memaling muka kita kepada orang-orang sekitar.
7. Senantiasa bersedekah. Jangan merasa paling kaya lalu bersikap kikir dan angkuh.[15]
IV. PENUTUP
A. SIMPULAN
Menurut pengertian istilah, takabbur ialah menampakkan kakaguman diri dengan cara meremehkan orang lain dan merasa dirinya lebih besar dibandingkan dengan orang lain, serta tidak mau mendapat kritik dari orang lain. Sifat sombong sebaiknya harus selalu kita jauhi karena sifat sombong memberikan banyak bahaya untuk kita semua. Bahaya – bahaya dari sifat sombong antara lain adalah:
1. Orang yang di dalam hatinya ada kesombongan walaupun kecil, tidak akan masuk surga.
2. Sombong adalah pintu bagi dosa – dosa lainnya.
3. Orang yang sombong tidak hanya dibenci oleh Allah, tetapi juga dibenci oleh manusia.
4. Orang yang kafir dan menyombongkan diri terhadap Allah, akan ditimpa siksaan yang pedih dan tidak ada baginya seorang penolong kecuali Allah SWT.
Pada dasarnya seorang Muslim bisa menunjukkan sikap benci terhadap kesombongan dengan cara menghindari sikap sombong itu sendiri, Beberapa tips untuk menghindari sifat sombong adalah:
1. Selalu bersyukur dan berdzikir kepada Allah.
2. Rajin beribadah dan lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.
3. Hindari banyak bicara dan membanggakan diri sendiri.
4. Mempelihara sikap rendah hati, bukan rendah diri.
5. Jangan merasa paling dermawan.
6. Tebarkan salam dengan sesama Muslim.
7. Senantiasa bersedekah.

SARAN
Demikian makalah yang kami sampaikan. Dengan harapan semoga dapat bermanfaat bagi semua pihak. Kami menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan makalah ini. Oleh karena itu kritik dan saran yang konstruktif sangat diperlukan demi kemaslahatan kita semua. Dan semoga kita bias mengambil hikmahnya. Amiin.
[1] Haidar Putra Daulay, Qalbun Salim Jalan Menuju Pencerahan Rohani, (Jakarta: Rineka Cipta, 2009), hlm. 79-81
[2] Farid Ahmad, Tazkiyatun Nufuz wa Tarbiyatuha Kama Yuqarriruha Ulama’us Salaf, terj. M. Azhari Salim, (Surabaya: Risalah Gusti, 2002), hlm. 24
[3] Anwar Sanusi, Jalan Kebahagiaan, (Jakarta: Gema Insani, 2006), hlm. 60
[4] Sayyid Muhammad Nuh, Af’atun ‘ala Ath Thariq, teri. Darmanto, (Jakarta; PT Lentera Bastritama, 1998), hlm. 109
[5] http://media-islam.or.id/2007/11/20/janganlah-sombong, 16/04/2013, pukul 08.10
[6] Haidar Putra Daulay, Qalbun Salim Jalan Menuju Pencerahan Rohani,.. hlm. 82-83
[7] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Tafsirnya, Jilid vII, (Jakarta: Lentera Abadi, 2010), hlm. 557-558
[8] Ali Hasan, Orang-Orang Yang dicintai dan dibenci Allah, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2003), hlm. 63
[9] Muhammad Abdul Aziz al-Khauli, Menuju Akhlak Nabi, (Semarang: Pustaka Nuun, 2006), hlm. 206-207
[10] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Tafsirnya, Jilid II, (Jakarta: Lentera Abadi, 2010), hlm. 333-334
[11] Ali Hasan, Orang-Orang Yang dicintai dan dibenci Allah,.. hlm. 64-65
[12] Anwar Sanusi, Jalan Kebahagiaan,... hlm. 61
[13] http://www.dakwatuna.com/2012/11/12/24061/bahaya-sombongbahaya-sombong, 16/04/2013/,08.10
[14] Anwar Sanusi, Jalan Kebahagiaan,... hlm. 61
[15]http://www.dakwatuna.com/2012/11/12/24061/bahaya-sombongbahaya-sombong, 16/04/2013/, pukul 08.10

Dikirim pada 30 April 2013 di Akhlak
23 Apr


ISLAM DI IRAN
RUMUSAN MASALAH
Bagaimana latar belakang negara Iran?
Bagaimana sejarah masuknya Islam di Iran?
Bagaimana keadaan politik, budaya dan ekonomi di Iran?
Apa saja paham keagamaan yang berkembang di Iran?

PEMBAHASAN
Latar Belakang Negara Iran
Iran (Republik Islam Iran) beribukota di Teheran. Negara pegunungan yang terletak di daerah Timur Tengah di belahan Utara bumi, antara 25˚ dan 40˚ garis lintang serta 44˚ dan 63˚ garis bujur. Disebelah utara berbatasan dengan Republik Armenia, Laut Kaspia, dan Republik Turkimenistan, disebelah Barat Daya dengan Irak, disebelah Timur Laut dengan Afganistan dan Pakistan, disebelah Barat Laut dengan Turki dan disebelah Selatan dengan Oman dan Teluk Persia. Luas wilayah Iran 1.638.057 km2, terbagi atas 24 provinsi, 195 kotapraja, dan 500 distrik. Provinsi terbesar ialah Khurasan dengan luas 315.687 km2, sedangkan profinsi terkecil adalah Gilan yang luasnya 14.820 km2.
Dahulu Iran lebih dikenal dengan sebutan negara Persia. Sejak tahun 1935, pada masa kekuasaan Raja Reza Khan (pendiri Dinasti Pahlevi dan ayah syah Muhammad Reza Pahlevi yang ditumbangkan oleh Ayatullah pada tahun 1979). Sebutan Persia diganti dengan Iran (Persia = orang-orang Aria atau keturunan bangsa Aria). Suatu nama yang pernah dipakai oleh nenek moyang bangsa Iran bagi dataran tinggi Iran yang dikuasai mereka pada sekitar tahun 1700 SM. Disebutkan pula bahwa pada masa kekuasaan Darius (salah seorang Maha Raja Iran tempo dulu), kata Iran juga pernah dipakai bagi negeri kekuasaannya.
Diperkirakan bahwa sebelum tahun 5000 SM sudah terdapat bangsa yang menetap di Iran, namun tidak diketahui secara pasti dari mana mereka itu berasal. Akan tetapi, sekitar tahun 2000 SM bangsa Aria yang juga merupakan ras Indo-Eropa itu telah mulai menetap di Iran. Mereka berasal dari suku Fras. Kemudian pada tahun 1000 SM datang pula suku Media yang juga berasal dari bangsa Aria dan menetap di wilayah Utara Iran.[1]

Sejarah Masuknya Islam di Iran
Pada tahun 637 melalui perang Qadisiyyah, Imperium Persia jatuh ke tangan kaum muslimin yang waktu itu dipimpin oleh Khalifah Umar bin Khatab (634-644). Kemudian pada tahun 641, setelah melalui peperangan Nahavand, seluruh Imperium Persia yang waktu itu dipimpin oleh Yazdajird jatuh ke tangan kaum muslimin. Sejak itu Persia yang menganut agama Zoroaster beralih ke agama Islam. Akhirnya agama Islam pun bisa berkembang disana.
Sampai tahun 820 seluruh wilayah Persia praktis berada dibawah kekuasaan penuh khalifah di Baghdad. Tetapi sejak tahun 820, muncullah dinasti-dinasti kecil maupun besar di berbagai wilayah Persia. Dinasti-dinasti itu antara lain: Dinasti Samanid (892-999), Gaznawi (999-1037), dan Seljuk (1037-1157). Pada tahun 1501 muncullah kerajaan Safawi yang menganut Islam Syi’ah dua belas Imam sebagai agama resmi negara.[2] Diantara kota penting pada masa kerajaan Safawi adalah Isfahan. Kota ini merupakan gabungan dari dua kota sebelumnya, yaitu Jayy, (dulunya merupakan Ibu kota provinsi Persia pada waktu itu), dan kota Yahudiyyah.[3]
Sejak tahun 11 Februari 1979, melalui revolusi Islam yang dipimpin oleh ulama’ terkemuka Iran, almarhum Ayatullah Khomeini. Sistem kerajaan di Iran yang telah ribuan tahun berkuasa kemudian dihapus dan diganti dengan Republik Islam Iran sampai sekarang.
Keadaan Politik, Budaya dan Ekonomi Iran
Sejak tahun 1906, Iran telah menjadi negeri Monarchi Konstitusional. Dewan Legislatif (pembuat undang-undang) dicetuskan dalam Majelis Dewan Konsultatif Nasional, terdiri dari 200 anggota yang dipilih 5 tahun sekali, termasuk nanti sebagai senat atau Majelis Tinggi. Senat terdiri dari 60 anggota, 30 atas usul Shah dan 30 lainnya hasil pemilihan. Lembaga Eksekutif adalah menteri kabinet, para menteri bertanggung jawab pada Dewan Legislatif dan Shah biasanya menunjuk Perdana Menterinya yang nanti memimpin dan menyeleksi para Menteri.
Politik Iran berkisah pada tokoh-tokoh partai atau program-programnya. Hanya ada satu partai polotik yang berbau Barat, yakni Partai Tudeh, yang kemudian sejak tahun 1953 dilarang hidup. Untuk tujuan-tujuan administratif Iran membagi provinsinya kedalam 21 provinsi (ustans) yang dipimpin oleh Gubernur Jendral (Ustandar). Ustan dibagi lagi dalam sub provinsi (Shahristans) selanjutnya dibagi lagi kedalam distrik-distrik. Kebanyakan kota memiliki dewan kota (wali kota) yang memungut retribusi pajak. Kantor-kantor departemen daerah seperti, kesehatan, pendidikan dan kepolisian bertanggung jawab kepada menterinya di Teheran dan memiliki kekuasaan atas keputusannya.
Pemerintahan Iran sekarang menjadi negara modern dengan sebutan Republik Islam Iran. Disamping ada pemerintah dan parlemen yang menjalankan dan mengawasi jalannya sistem pemerintahan ada juga Faqih atau ulama’ karismatik yang ikut mengontrol jalannya pemerintahan dan sosial-keagamaan penduduk kawasan ini. Lembaga ini disebut wilayah a-lFaqih (pimpinan tertinggi bidang agama dan politik) yang sejak tahun 1979 dipimpin oleh Imam Khamaini, tokoh revolusi Iran, setelah wafat telah digantikan oleh para ulama’-ulama’ karismatik lainnya. Sekarang dan untuk menghindari konflik, kedudukan pemimpinnya sejak tahun 4 Juni 1989 digantikan oleh anak Imam Khamaini, yakni Ali Khamaini.
Dalam sistem pemerintahan wilayah Al-Faqih ini, Iran juga mengenal istilah Eksekutif, Legislatif dan Yudikatif. Kepala pemerintahan dipegang oleh seorang presiden. Pemilu dilakukan 4 tahun sekali, untuk memilih 290 anggota majelis legislatif. [4]
Kebudayaan Iran telah lama memengaruhi kebudayaan-kebudayaan lain di Timur Tengah dan Asia Tengah. Malahan, Bahasa Persia merupakan bahasa intelektual selama milenium kedua Masehi. Kebanyakan hasil tulisan Persia diterjemahkan ke dalam Bahasa Arab semasa kekholifahan Islam. Pada zaman awal Islam di Persia, kebanyakan karya Persia ditulis dalam Bahasa Arab. Tetapi, ketika zaman pemerintahan Umayyah, orang-orang Persia ditindas oleh bangsa Arab. Ini menyebabkan banyak tokoh intelektual Persia mulai menggunakan bahasa Persia dalam tulisan mereka[5].
Diantara tempat-tempat penting di Iran adalah Mashed dan Qura. Pendidikan umum telah diwajibkan oleh undang-undang tahun 1943 sehingga sekolah-sekolah negeri gratis. Sebelum perang dunia II, bahasa Prancis merupakan bahasa yang diajarkan disekolah, tetapi kemudian digantikan oleh bahasa Inggris. Terdapat sejumlah lembaga-lembaga pelatihan guru dan sekolah-sekolah tekhnik dan lembaga khusus ahli dari berbagai jenis bidang disiplin termasuk sekolah-sekolah musik, teater dan keperawatan. Universitas Teheran didirikan pada tahun 1935. Fakultas-fakultasnya: seni/sastra dan pendidikan, hukum, theologi, kedokteran, farmasi, pertanian, sains, teknologi dan fakultas kedokteran hewan.nuniversitas Tabriz berdiri tahun 1947, juga ditempat-tempat lain di Shiraz, Isfahan, Ahwaz, dan Mashed.
Museum-museum berada dibawah pengawasan kementrian pendidikan. Terdapat tiga museum di Teheran: Museum Gulestan Palace (berdiri tahun 1894), juga di Shiraz, Mashed, dan Qum. Perpustakaan penting di Teheran Gulistan Palace terdapat berbagai manuskrif hebat, perpustakaan parlemen, berbagai perpustakaan fakultas di Universitas Teheran serta Perpustakaan Nasional. Sekalipun demikian, komposisi penduduk 50% masih berada pada garis kemiskinan, angka pengangguran 30%. Angka buta huruf terus berkurang dari 50% pada tahun 1980-an sekarang tinggal 28%.[6]
Berdasarkan taksiran pasti 30% - 35% wilayah negeri ini adalah padang pasir dan gurun, kira-kira 10% - 15% hutan, 15% tanah pengembalaan dan kurang dari 20%nya adalah lahan potensial yang dapat diolah. Lahan ini menyongkong hasil tanaman biji-bijian: gandum, gerst (gandum pembuat bir), dan padi-padian sebagai beras, terutama disekitar Kaspia. Disini juga terdapat lahan luas penghasil sayuran dan buah-buahan (pir, apel, persik, prem, delima, aprikot, kurma, melon dan jeruk). Hasil lainnya, kapas tembakau, minyak mentah, dan gula bit. Sehingga dalam banyak kasus irigasi sangat dibutuhkan di wilayah ini.
Gandum merupakan hasil biji-bijian yang terbesar. Iran tengah dan selatan bergantung pada gandum dan gers Azerbaijan. Beras dalam jumlah banyak sebagai bahan bangan ketiga dapat diekspor ke Rusia. Iran mengandalkan minyak dan gas bumi, batu bara, tembaga, bijih besi, timah dan sulfur. Minyak adalah aset mineral yang sangat bernilai sehingga Iran menjadi peringkat ke-4 di dunia. Awal penemuannya tahun 1908 dan dikembangkan sampai nasionalisasi tahun 1951.
Mineral-mineral lainnya ditemukan juga tetapi dalam jumlah yang sedikit, terutama didaerah terpencil yang sulit dilakukan eksplorasi. Kurang 2% populasi rakyat Iran bekerja di industri, setengahnya dipekerjakan dalam produksi barang-barang manufaktur di rumah-rumah seperti pakaian dan permadani. Produksi penting adalah tekstil (kapas, kantun, wol, sutra, rami/roni).[7]
Bangsa Iran telah mengenal peradaban jauh sebelum bangsa Arab. Kemudian mampu beradaptasi dengan agama Islam yang membuka jalan bagi pemeluk-pemeluknya untuk menciptakan suatu peradaban yang tinggi. Dalam ilmu pengetahuan misalnya, muncul tokoh-tokoh seperti: al-Bairuni, Muhammad Musa al-Khawarizmi, Umar Khayyam, Abu Bakar al-Juwaini dan lain sebagainnya.[8]


Paham Keagamaan yang Berkembang di Iran
Di dunia Islam, Persia menempati menempati kedudukan khas, karena berbeda dengan kebanyakan negera di dunia Islam. Mayoritas penduduk Persia (kini sekitar 90%) menganut Islam syiah. Namun, ada dua sifat khusus yang lain, yang baru berkembang belakangan, yang membedakan Islam syiah Persia-dan hanya Persia-dari Islam sunni.
Awal perkembangan kedua golongan tersebut terletak pada abad ke-16 M. Pada abad itu Islam syiah diperkukuh oleh dinasti Syafawi dan menjadi agama yang resmi di Persia. Kebijakan itu dianut oleh dinasti Syafawi untuk memperkuat kekuasaannya dengan memberikan suatu dasar dan pengabsahan keagamaan. Baru kemudian, pada abad ke-18 dan ke-19 dan dibawah pemerintahan dinasti-dinasti baru terutama Dinasti Qajar (1794-1925), golongan ulama menjadi suatu Korps Hierarkis dan Otonom terhadap negara yang seringkali menjadi dasar perlawanan terhadap penguasa negara.[9]
Sejak tahun 640 M seluruh wilayah Persia telah dikuasai pemerintahan Islam, Amawiyah (661-750) dan Abasiyah (750-1258). Bermacam-macam dinasti lokal banyak berdiri disekelilingnya, Tahirids (820-872) di Khurasan, Samaninds (900-994) di Transoxiana-Khurasan, Saffarids (867-909) di Kirman-Khurasan. Mayoritas penduduknya bermadzab Syi’ah, kemunculannya mungkin akibat kekecewaan politik orang-orang Persia terhadap bangsa Arab, juga adanya pertemuan kultural Arab-Persia yang “terlembagakan” melalui pernikahan antara Hussain anak Ali bin Abi Thalib (cucu Rasulullah SAW) dengan putri kaisar Persia.
Banyak kekuasaan berikutnya yang ikut andil dalam melahirkan sejumlah karakter sejarah negara Persia-Iran ini, terutama dalam pembentukan sebagai negara modern, yakni Safawiyyah (1507-1722) sampai dinasti Qajar (1779-1925). Periode Safawi merupakan masa penerapan ortodoksi agama, terutama sufisme dengan corak ahiisme-nya, sebagai upaya politik untuk membedakan wilayah kekuasaannya dengan wilayah-wilayah Sunni disekitarnya, Turki Usmani dan Mughal India. Tahun 1722 ia ditaklukkan oleh penguasa Afgans Mahmud, kemudian oleh Nadir Shah 1736-1747. Setelah itu diatur oleh keluarga Zands kemudian oleh dinasti Qajars.[10]
Madzhab resmi Islam di Iran adalah Syi’ah Itsna ‘Asariyah (madzab Ja’fary) yang telah diterapkan sejak masa Shah Isma’il 1 dinasti Safawy abad ke-16. Isma’il berkuasa selama 23 tahun, yakni antara tahun 1501-1524 M. Hanya selang waktu 10 tahun wilayah kekuasaan Isma’il sudah meliputi Persia dan bagian Timur bulan sabit subur (Fertile Crescent)[11]
Di Iran berbeda dengan dunia masyarakat sunni lainnya, mereka memiliki para anggota Imam yang terdiri dari para Mujtahid dan Mullah. Mereka adalah para penafsir Al-Qur’an yang berwenang dalam menerapkannya pada kehidupan sehari-hari di masyarakat Iran. Dalam tradisi intelektual, mereka melebihi dunia Islam Sunni terutama saat-saat terjadi kevakeman ijtihad pada periode pertengahan. Mereka terus giat mengembangkan warisan intelektual muslim sunni, terutama dalam bidang filsafat Islam, khususnya theosofi isyiraqiyah dan Ibn ‘Araby, hingga lahirlah tokoh-tokoh seperti Mulla Shadra, Shadr al-Din al-Qunnawy dan sebagainya. Pada periode modern lahir pula tokoh-tokoh intelektual seperti, Thabathabai, Mutahhari, Ali Syariati, Al-Baqilany dan sebagainya.[12]
Kebanyakan penduduk Iran adalah muslim, di mana 90% Syiah dan 8% Sunnah Wal Jamaah. 2% lagi adalah penganut agama Baha`i, Mandea, Hindu, Zoroastrianisme, Yahudi dan Kristen. Zoroastrianisme, Yahudi dan Kristian diakui oleh pemerintah Iran dan turut mempunyai perwakilan di parlemen. Agama Baha`i tidak diakui.


[1] Dewan Redaksi Ensiklopedia Islam, Ensiklopedi Islam (Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hove, 1997) hlm. 241-242
[2]Dewan Redaksi Ensiklopedia Islam, Ensiklopedi Islam,...., hlm. 242
[3] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. 2003), hlm. 284
[4] Azyumardi Azra, Studi Kawasan Dunia Islam, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada. 2009), hlm. 190-192
[5]
[6] Azyumardi Azra, Studi Kawasan Dunia Islam,... hlm. 194-195
[7] Azyumardi Azra, Studi Kawasan Dunia Islam,... hlm, 197
[8] Dewan Redaksi Ensiklopedia Islam, Ensiklopedi Islam,...., hlm. 243
[9] Dewan Redaksi Ensiklopedia Islam, Ensiklopedi Tematis Dunia Islam Dinamika Masa Kini, (Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hove, t.th), hlm. 28
[10] Azyumardi Azra, Studi Kawasan Dunia Islam,... hlm. 188-189
[11] Fatah Syukur, Sejarah Peradaban Islam (Semarang: PT Pustaka Rizki Putra. 2009), hlm. 140
[12] Azyumardi Azra, Studi Kawasan Dunia Islam,..., hlm. 193-194

Dikirim pada 23 April 2013 di Materi Kuliyah
Awal « 1 » Akhir
Profile

Jihad dengan Thalabul `Ilmu More About me

Page
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 186.825 kali


connect with ABATASA